some thoughts...

some thoughts...

16.6.11

Hakunamatata Me, Please?


I need products that be able to rinse all my unreasonable worries.

24.4.11

What's So Called Home Part 1

For me, it's.. A comfortable window seat!


Me & my morning coffee...


Me+fruit punch+a good book..


At the end of the day, wishing on the same star, with you.

Once Upon A Rainy Afternoon


I love coffee, I love rain
They both smell the same, some kind of earthy
They both bring me to somewhere, the place I love most
The-not-yet-come-home-you

Fly, Me, Fly!


What I want is just flying free
I thought I need you to fly
In fact I have to learn flying with my own broken wings
At least I know, I won't let myself down

21.4.11

Just Judged

Look, even we need a guidance! Can you imagine, how rocky our road is?

Pada suatu hari, dalam sebuah obrolan serius tentang pekerjaan dengan seseorang, tiba-tiba saja dia menyimpulkan, "Ah, nanti kalo kamu SUDAH NIKAH, pasti ngerti..", katanya sambil tersenyum.

Well, sebenarnya aku pun boleh bilang, "Kalo saja sekarang ini kamu belum nikah, pasti ngerti..." untuk setiap "challenge" yang aku hadapi dengan menjadi single.

Tapi tentunya aku nggak membalas begitu, karena masih single adalah pilihanku, instead of menikah tanpa alasan yang benar.

Kalau saja dia tahu, menjadi single bukan tantangan yang mudah. Menjadi single bukan berarti tanpa tanggung jawab, bukan hanya senang-senang dan tak ada masalah serius.

Tapi aku tidak mau repot-repot memberi tahu. Karena sepertinya beban dia sudah cukup berat dengan memilih menikah.

Terlalu Amerika


Lahir dan besar di negara super ajaib ini sebenarnya nggak perlu heran bahwa hal hel hol seperti di bawah ini, adalah sesuatu yang dianggap 'terlalu Amerika'.


Hal: bahwa menikah adalah sebuah pilihan bebas tiap individu yang sudah dewasa (bukan mengaku/ dianggap dewasa), yang mana harus dipertanggungjawabkan. Dengan siapa, kapan dan bagaimana caranya, adalah menjadi bagian di dalam pilihan tersebut.


Hel: bahwa agama adalah 'way of life' dan cara berkomunikasi dengan Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri, bukan penggalangan massa, siapa yang paling banyak pengikut, dia yang menang; bukan juga sesuatu yang diturunkan secara genetik, bukan juga penggolongan manusia


Hol: orang yang lebih tua memang patut didengar ucapannya, karena sudah melewati banyak hal lebih dulu dari kita. Tapi mereka juga manusia biasa, bisa juga salah.

27.3.11

Keluarga Markum


Masih ingat dengan Keluarga Markum?

Aku sendiri nggak. Yang kuingat, itu hanyalah judul sebuah film. Bagaimana ceritanya dan siapa saja yang main, aku sama sekali lupa.

Tapi jangan sedih. Saat ini, semua tanya bisa dijawab oleh Google. Ternyata, film yang ceritanya ditulis Asrul Sani ini adalah semacam sekuel dari film lokal terkenal, Kejarlah Daku Kau Kutangkap. Dan setelah kubaca sinopsisnya, aku jadi tahu, kenapa judul film ini dijadikan semacam istilah yang keluargaku pakai kalau ada 'kekacauan' di dalam keluarga. Kekacauan disini ditulis dengan tanda kutip karena memang kekacauan yang dimaksud sebenarnya jenis kekacauan yang bisa ditertawakan.

Misalnya, waktu tante dan om-ku berantem sampai pisah rumah, tante tetep di rumah mereka, sementara om 'minggat' ke rumah orang tuanya. Tapi lucunya, tiap jam makan siang, si om tetep mampir ke rumahnya untuk makan siang, sambil si tante tetep juga melayani om. Bedanya, mereka nggak saling ngomong. Nah, jadilah setiap ada kesempatan 2 orang atau lebih anggota keluarga berkumpul, kejadian ini selalu dibahas. Biasanya, obrolan selalu ditutup dengan gelak tawa dan closing line, "Dasaar, keluarga Markuuuuum!"

Begitu.

Ternyata, "Keluarga Markum" nggak cuma berlaku untuk keluargaku. Dalam sebuah obrolan BBM di suatu malam, seorang sahabat bilang bahwa dia sudah 1,5 jam berdiam di dalam mobil yang sengaja diparkir di taman kompleks dekat rumah.

"Tadi pas gue nyampe rumah, gue lihat mobil sepupu gue, yang mana pasti dateng sama nyokapnya. Males gue!", jelasnya begitu kutanya kenapa.
"Lho, emang knapa?", tanyaku lagi.
"Maleees! Bude gue kalo nanya kayak interogasi gitu!"
"LOL! Nanya apaan sih, misalnya?"
"Ya biasa, pertanyaan standar: kapan dikenalin calonnya?"
Aku lebih ngakak lagi.
"Mana twitter pake error! Mati gaya deh gue!"
"Udaaaah, masuk aja daripada lo sengsara! Hadapin ajalaaah. Basa basi dikit, trus pamit mandi. Bilang aja abis maen futsal", aku mencoba urun saran.
"Hah, futsal ngejeans gini?"
"Aaah, cueeek! Orang tua nggak kan merhatiin kali!"
"Yeee, lo kaga tau Bude gue! Apa aja bisa dibahas sama dia!"
"Hehehe, gitu ya? Jadi, mau sampe jam brapa lo disitu?"
"Tauk! Coba deh gue lewat lagi, kali aja udah balik dia"

Dan 5 menit kemudian..

"Anjrit, blom balik juga!"
"LOL! Emang dia sengaja nungguin lo kali?"
"Sialan lo!"

Begitu juga cerita dari beberapa sahabat di sebuah sesi curhat tentang kami sebagai generasi terakhir survivors dari pola didik kolot yang ditemurunkan orang tua (walaupun nggak selalu berdampak negatif, banyak orang-orang di lingkunganku merasakan efek salah persepsi dari pola didikan jaman dulu). Tapi, siapa sangka kalau 'derita' masa lalu bisa menjadi bahasan yang sangat menghibur di saat kita dewasa sekarang. Dasaaar, keluarga Markum!

Well, at some point, "Keluarga Markum" adalah salah satu karya film yang sukses memotret fenomena sosial masyarakat kita, yaitu: disfunctional family is the normal one! :)

24.3.11

Back to Write!


Senangnyaaa kembali menulis!

Aku adalah orang yang percaya pertanda. Sepertinya Tuhan memang selalu berbaik hati memberikan pertanda sebelum membawa berkah-Nya untukku.
Dalam hal blogging ini, misalnya, adalah waktu salah satu penyiarku minta ijin untuk menjadi moderator di sebuah seminar tentang menulis. Atau waktu membaca salah satu blog komersial dimana perusahaanku bekerja sama dan kemudian menemukan artikel "Menulis untuk Sumber Penghasilan". Atau waktu salah satu partner kami bikin acara berjudul "Be A Living Legacy through Blog".

Kurang apa coba?! :)

Jadi, semoga blog ini juga bagian sebab-akibat dari pertanda membawa berkah.

Ayo, menulis lagi!