some thoughts...

some thoughts...

5.10.17

Nobody Gets Me But Me

Barusan ada kejadian yang membuat kesal. Seperti biasa, aku merasa tidak dimengerti.
Tanpa mengurangi rasa hormat dan terima kasihku, aku merasa orang tuaku tidak juga memahami seperti apa aku ini. Selalu menganggap aku anak (yang harus) penurut. Atau, yang paling sederhana, betapa sulitnya paham bahwa aku nggak suka diajak ngomong apapun saat bangun tidur.
Bahkan di umurku yang udah hampir kepala 4, aku seperti harus jadi anak sempurna, termasuk jadi ibu sempurna di mata mereka. 

Kemudian aku langsung teringat, betapa aku sering merasakan hal nggak enak ini. Merasa tidak dipahami, tidak diterima apa adanya, disalahartikan, dan dituntut untuk menjadi sempurna.  Bukan hanya oleh orang tua, tapi seperti oleh semua orang! Efeknya, aku menjadi nggak percaya diri, lelah emotionally, dan punya banyak kemarahan di hati.

Lalu, aku mencoba mencari, apa sih masalahnya? Adakah orang lain di dunia ini yang merasa sepertiku? Bagaimana aku harus menyikapinya?

Aku googling dan menemukan situs ini (google memang semakin mengerikan, apa-apa juga ada!), yang mengangkat topik persis seperti apa yang aku alami, penyebabnya, dan tips mengatasinya. Sempurna!

Semua yang disebut di sana ada benarnya. Dan, saran untuk mengatasinya juga masuk akal. Beberapa yang saya dapat adalah:

1. Kita memang tidak bisa mengendalikan bagaimana orang berpikir dan berpendapat tentang kita, termasuk reaksi mereka tentang sikap dan perkataan kita. Orang cenderung ingin mendengar apa yang mereka ingin dengar dan melihat apa yang mereka ingin lihat.
2. Perasaan tidak dipahami berawal dari ketakutan dari tidak diakui (entah kesetiaannya, kebaikannya, kepintarannya). Menjelaskan maksud kita memang bisa menjernihkan masalah. Tapi, apa kita harus melakukan itu setiap saat pada setiap orang?
3. Menjelaskan siapa diri kita menjadi perlu hanya untuk orang-orang yang penting buat kita. Sisanya? Suck it up, people! I am who I am.
4. Perasaan ingin dipahami juga karena ingin diapresiasi atau setidaknya, diterima. Pembuktian nyaris seperti ilusi, semakin dicari semakin nggak dapet-dapet.
5. Seperti kita berhak merespon bagaimana perlakuan orang, kita juga berhak untuk tidak merespon. Pick your own battle. Then again, you can't please everyone in the world.
6. Merasa tidak dipahami adalah sesuatu mungkin bisa dialami siapa saja, apalagi di jaman sekarang. Lihat, betapa mudah sekarang orang mengemukakan pendapat dan mengekspresikan dirinya. Apakah kita harus menerima semuanya? Tidak. Kita memang tidak harus dipahami. Yang jelas, kita adalah kita. Kalau mereka tidak senang dengan siapa kita, itu masalah mereka.

Saran:
1. Letting go is freedom. Dalam beberapa hal, membiarkan sebuah masalah berlalu kadang solusi terbaik, karena kadang ternyata masalah itu sama sekali bukan masalah.
2. Kita ingin berpikir bahawa manusia adalah mahluk rasional. Tapi, ternyata nggak! Manusia adalah mahluk emosional. Banyak keputusan diambil berdasarkan apa yang kita rasakan. Sama seperti emosi positif, emosi negatif itu perlu untuk membuat diri berkembang. Misalnya,dengan marah, kita semakin mengenal siapa diri kita dan menemukan akar masalah jika diproses dengan benar. Ijinkan emosi itu hadir, rasakan, dan ekspresikan dengan tepat. Salah satunya dengan menulis bebas. Menuangkan perasaan ke atas kertas bisa membuat kita  lebih obyektif memandang masalah. Rasakan emosi yang ditimbulkannya.  Renungi dan temukan kedamaian di dalamnya. TIDAK ADA JALAN SINGKAT untuk mengekspresikan emosi manusia.
3. Tunda berdebat. Sleep on it. Ingat, kadang ternyata sebuah masalah bukan masalah sama sekali.

Sumber: http://onewithnow.com/misunderstood-how-to-let-go-of-the-need-to-explain-yourself/

19.11.15

Three Is Just A Number

Happy 3rd anniversary, Babe...

Yes, been 3 years sailing. It's not always stormy every day but this journey is.. well, I never thought it would be like this.

Seems like "beautiful mess" still suit the title of the story of us.  I begin disliking it anyway :))

This trip makes a better me, though. I learn a lot, think a loooooot, like never enough me being an overthinking-introvert :D

Marriage is only for adults. It's only for the ones who fulfilled. 'Cos it's no longer about you. It's your life in the bigger picture.

2.7.15

Week 3 Ramadhan. Get Sumthin'?

Ramadhan hampir genap 3 minggu.  Sudah dapat apa?

Jujur, belum.

Padahal, Ramadhan tahun ini cukup istimewa buat saya.  Ini kali pertama saya berpuasa lagi setelah "cuti" 2 tahun untuk urusan maternal.

Excited, begitu rasanya waktu menyambut Ramadhan.  Tekad membulat di hati untuk lebih serius melatih diri di bulan ini.  Target saya nggak muluk-muluk: "merapikan" lagi sholat saya dan puasa dengan substansinya puasa, bukan sekedar menahan haus dan lapar.

Yeah, memang selalu begitu setiap tahunnya kan?  Dan jika pada minggu ketiga semangat itu mengendur, juga bukan hal baru.

Tapi kali ini, kenapa berasa sedih ya?  Kenapa begitu cepat?  Rasanya belum berlatih apapun.

Biar begitu, seminggu lagi itu tetap saja waktu.  Sebaiknya memang jangan menyerah dulu.

Ah, rasanya dulu lebih mudah beribadah.  Saat diri ini tak banyak mempertanyakan.  Saat maknanya hanya "setor muka".  Ibadah saya komplit, sunnah-sunnah pun dijalankan.  Rasanya nyaman melakukan hal yang benar.

Sekarang, seperti ingin lebih.  Rasanya ingin sholat yang benar-benar bertemu dengan Tuhan.  Sholat khusyuk ternyata sulit.  Ibadah ikhlas ternyata susah.

Saat melihat hal lebih substansial, hal-hal kecil jadi berarti.  Boro-boro sunnah,  yang wajib aja buat saya masih berasa "cemplang".

Semoga saya terus dijadikan orang yang selalu ingin belajar memperbaiki diri.  Dan semoga sih, waktu demi waktu di mata Tuhan menjadi orang yang lebih baik.

20.4.15

Mother (in) Blues

Sometimes I think I am not good at this. Sometimes I wanna give up.  But now it's no longer about "me-myself-and I".  Nothing more important about me.  There are only hers and his.

Being a woman is such a thing. But being a wife and a mother bring you to another level.  You are struggling between playing your roles well and not fading away.

But sometimes the easiest way is letting go (if you mind to call it giving up) all my needs and wants.  'Cos sometimes all you need is just to feel carefree.

21.3.15

Happy Birthday To Me

Katanya, 1 dari 10 ibu melahirkan mengalami postpartum depression. Kalau dari yang saya baca, saya termasuk yang mengalami salah satu sindromnya.
Depresi saya lebih karena saya merasa hidup saya direnggut. Yes! Terkadang suka merasa bersalah karena memiliki perasaan seperti itu. Tapi, lagi-lagi, setelah saya banyak baca, it's quite normal buat ibu-ibu yang mengalami baby blues syndrom.
Saya "hilang", karena sejak saat itu, dunia saya hanya anak, anak, anak, dan suami. Tentu saja ada saya, tapi begitu saya mau melakukan sesuatu untuk si saya ini, waktu dan tenaga sudah tidak ada. Bahkan hanya untuk tidur pun!
Sekarang, sudah hampir 1 tahun lima bulan saya menjalani apa yang disebut 'motherhood'.  Setelah menjalani prosesnya, dari mulai nangis diam-diam di kamar mandi sampai cecurhatan ke teman-teman sesama ibu; sekarang perasaan "saya hilang" itu berangsur-angsur berkurang.
Saya belajar menyadari.  I still exist, just I'm not the same person anymore. I grow. I transform.  I am a mother.
Happy birthday, mother version of me! :)

10.10.14

Hard Yet Easy


Being a parent is such a total commitment.  
You can't pause, you can't take a break, you can't cancel.  
You need to work out 'cause it's physically exhausted, you have to be patient 'cause it's mentally challenging, you have to stay sane 'cause you'll be worry all the time.  
You have to be sure that you really want it because it's never-ending process.

But believe it or not, loving someone unconditionally is never as easy as now.

1.12.13

Postponed Posts




Sebulan lebih, tepatnya 32 hari aku menjadi ibu. Niatnya sih, membuat jurnal di blog ini mengenai kehamilanku sampai masa-masa kelahiran. Namun apa daya, 9 bulan ternyata nggak selamaa yang dibayangkan. 

Here I am now, juggling between housework, getting enough sleep and handling the new born baby.

Exhausted, but I am happy.

28.9.13

Baby Bliss


Sebelum saya hamil, saya sempat kepikiran untuk membuat jurnal masa kehamilan tentang segala pengalaman pertama seputar pregnancy yang (katanya) menakjubkan.  Tapi nyatanya, sampai usia kandungan saya sekarang sudah mencapai 34 minggu, ini adalah tulisan pertama saya :p

Tentu bukan berarti saya nggak mengalami momen-momen menakjubkan tadi.  Of course, dipercaya bisa mengandung seorang anak manusia adalah sebuah berkah tak terhingga.  Nggak hanya karena bisa berketurunan, tapi proses perjalanannya benar-benar mengubah saya menjadi orang yang berbeda.  Dan saya merasakan efek ini juga terjadi pada suami saya sebagai individu, dan kami sebagai pasangan.



Yang jelas kami jadi lebih sering bersyukur, kami jadi lebih fokus, lebih sabar, lebih mengendalikan diri dan ego, lebih saling menunjukkan kasih sayang, dan banyak lagi.

Buat saya pribadi, keajaiban yang saya rasakan beyond my imagination.  Dari mulai perubahan bentuk badan, pengaruh hormon ke mood dan emosi, sampai waktu merasakan tendangan kecil diperut, bagaimana si bayi merespon omongan dan perilaku saya dan gerakan massive di minggu-minggu terakhir ini.

It's unbelievably amazing!


Dan syukur tak henti pada Tuhan, karena sudah memasangkan saya dengan suami yang penuh kasih.  Dengan segala kekurangannya (yang membuatnya semakin real & human), dia begitu pengertian, sabar dan berkomitmen menjalani masa kehamilan ini (yang membuatnya menjadi sangat spesial, mengingat banyak juga laki-laki yang masih berpikir dengan stereotype bahwa, "...yang hamil itu kan istri saya").  


Karenanya, saya sangat bangga padanya.  We're growing up together in the better or worse.  We're building our own family.  Our happiness.  Semoga selamanya.

20.7.13

Shoes Blues



 Pernahkah berkomentar, “Dulu dia nggak gitu lho!”.  Emosi yang mengiringinya bisa sebal, sinis, marah atau kasihan.

Saya pernah.  Baru saja kemarin.  Dan untungnya sebelum keburu suudzhan, saya langsung ditampar balik; dalam sebuah obrolan, seorang teman lain menceritakan kondisi sebenarnya dari si dia yang 'dulu nggak gitu' itu. 

Seketika, saya pun merasa sudah bersikap tidak adil dan sok tahu.

  Judging people emang paling gampang, tanpa kita mau tahu cerita di balik hidupnya.  Begitu kita menempatkan diri in his/ her shoes, tampaknya jadi wajar-wajar saja kalau seseorang nggak lagi seperti yang dulu.  Dian Pisesha saja mungkin udah nggak seperti yang dulu (cuma 'anak lama' nih yang ngerti joke ini Xp).  



 

Sepertinya, selama hukum alamnya masih ada aksi ada reaksi, ada sebab dan ada akibat, of course everybody changes.  It's like a part of human nature, we adapt to survive.  And in my humble opinion, as long as we live one life at a time, I don’t think we can judge people.


Mungkin ada baiknya juga sesekali kita "ganti sepatu", supaya bisa ngerti, make sepatu orang lain itu nggak selamanya enak.  Jadinya, kita bisa bersyukur deh kita pakai sepatu kita, instead of ngata-ngatain sepatu orang.




Dilemma Domestica


HAHA!

Thank God, I'm not the only woman who feels that way!

Kadang suka heran, kenapa suami nggak terganggu dengan sink yang penuh dengan piring/ gelas kotor?  Nggak ngerasa urgent buat ngisi ulang botol sabun cuci tangan yang udah kosong?  Apa dia mengira bath tub itu didisain bebas jamur dan bebas licin?

They don't know, this is such a porn for women :p
Pahit, tapi ternyata memang gitu kenyataannya!  Pria-pria nggak di-"install" kepekaan untuk bisa responsif sama hal-hal bersifat domestik!  Yaaa, tergantung orang tuanya dulu meng-install programnya atau nggak kali yaa..

Tapi nggak juga sih..  Abang saya dididik untuk bisa melakukan pekerjaan domestik.  Pas udah besar, ya nggak otomatis ngeh juga sama "kejanggalan-kejanggalan" seperti contoh di atas.  Alias, baru membantu kalau diminta atau disuruh.  



Cuma, jadi dilema juga buat para ortu.  Kalo anak lakinya di-install sama program-program domestik, tar kebablasan jadi feminin, gimana dong?  Hari gini!  Serba salah nggak sih?  :D

If only they knew, domestic works never harm his masculinity.
Instead, it makes him look way hotter! X) 



Tapi masih lumayan ajalah kalo pria-pria ini masih bisa menghargai double-duty istri jaman sekarang; ya kerja ya jadi ibu rumah tangga.  Yang sedih adalah... udah nggak peka, nggak respect juga sama istrinya.  Better pulangin aja ke mamanya yaa ;)






Mungkin soal nggak peka ini, sama juga seperti kita, para pereu, yang nggak ngeh sama waktunya ganti oli, mesin kendaraan kedengeran kasar, ban perlu angin, dan sejenisnya :p 

 Well, marriage, in learning.  Seru, tapi perlu 100% sober di dalamnya, kalo nggak mau terjebak dalam drama Oh Mama Oh Papa :)