some thoughts...

some thoughts...

3.7.13

Radio: The Morning Madness

Jam sembilan lewat sedikit.  Tissa tergopoh-gopoh menaiki tangga dengan memanggul notebook segede gabannya, totebag segede sariban, mengepit beberapa folder dokumen, plus sembari menjawab beberapa pesan urgent dari blackberry-nya.  Rambutnya yang masih basah sebagian menjuntai-juntai menutupi wajah.

"Weeeh, keramas pagi-pagi nih!", salah seorang kolega menyambut dengan gurauan garing di mulut tangga.  Tissa tersenyum sedikit tanpa niat, for the sake of sopan santun.  Dan...



Gubrak!!!

"Ya ampuuun, ati-ati, Mbaknyaaa!", Si Salah Seorang Kolega tadi pun buru-buru membantunya berdiri.  Seperti biasa, jatuh di tempat umum itu sakitnya nggak seberapa dibandingkan malunya.

"Hehehe..  Thanks..  Gue nggak papa kok", ujarnya sambil memunguti barang-barangnya yang tercerai di lantai.

"Yakin nggak papa?  Mau gue bawain?  Sini sini gue bawain", Si Salah Seorang Kolega, yang lalu disadari Tissa adalah Bono, staff GA, dengan baik hatinya menawarkan bantuan lagi.

"Eh, nggak usah, Bon, gue nggak papa kok, bener..", tolak Tissa halus, plus senyum manis, kali ini dengan niat tulus, "Biasaaa, meeting kepagian, jadi gini deh, buru-buru.."

Bono melirik jam, "Udah jam 9 sih nggak pagi-pagi amat kali..", ujarnya mencoba bergurau lagi.

Ups, satu langkah salah buat Bono, Saudara-saudaraaa!

Seketika, Tissa pun menarik lagi senyum tulusnya.  Tau apa dia soal meeting pagi?  Hidup lo kan normal, Bro!  Berangkat-pulang 9 to 5, nyampe rumah lo bisa snuggling sama anak-istri lo, tanpa kerjaan-kerjaan yang lo bawa pulang, tanpa teror BBM dari boss sampe jam 1 dini hari, tanpa insomnia, tanpa reminder-reminder meeting yang membabi buta di setiap pagi!  

I wish this were my to-do-list ~ Tissa.


So, don't you dare judging me!

Tissa merebut salah satu tentengannya dari tangan Bono, "Thanks!", tukasnya sambil melesat ke ruangannya.

Sesampainya di ruangan, Tissa pun buru-buru merapikan rambutnya, bajunya, dan sedikit memoleskan lipstik merahnya.  Lipstik merah ini such a big saviour for her.  Satu olesan saja... viola, menyelamatkan muka bantal plus mood yang berantakan!

"Mba Tiss, aku mau ngomong bentar ganggu nggak?", sebentuk wajah Kaya muncul di balik pintu.

Oh, no, not now!  'Mau ngomong bentar' itu sounds not such a good news!

"Gue mau meeting nih, udah telat pulak!", sergah Tissa.

"Oh, gitu ya, Mbak..  Aku cuma mau ngajuin ijin sih...  Kamis besok aku harus nganter nyokap ngurusin pajak.  Kasian dia nggak ada yang nganter.  Paling cuma setengah hari kok, Mbak.. ", Kaya pun menyodorkan selembar form ijin.

"Ooooo...  Taruh di meja aja deh, nanti gue cek ya, abis meeting.  Okey?", jawab Tissa sambil menyemprotkan body spray, kemudian menyambar notebook dan beberapa folder dokumen.

"Siap, Mbak Tis!  Thanks yaaa!", Kaya pun sumringah, "Meeting apa lagi nih, Mbak?", tanyanya melihat kehebohan klasik bosnya.

"Ah, lo nggak mau tau deh pokoknya!"

Kaya pun tertawa, "Oke deeeh, have fun deh kalo gitu!"

Tissa memutar bola matanya, "Eh, makasih lho!"

 "Deeeeeeh, gue meeting dulu yaaa!", serunya kemudian sambil tergopoh-gopoh melesat keluar ruangan, "Ada apa-apa BBM gue ya, Guuuys!"
 
Pemandangan rutin setiap pagi.  Tissa, Sang Ratu Dapur radio ini datang telat, kadang dengan rambut yang nggak sempat dikeringkan, tergopoh-gopoh untuk meeting marathon dari jam ke jam.  


"Weeeelll, coba kita itung sampe lima..  Tebak, kali ini apa yang ketinggalan?", sahut Melly, sang sekretaris.

"BB, biasanya sih.. ", ujar Rangga.

"Mug kopi dia!", sahut Luna.

As always, suara langkah kedubrakan pun kembali terdengar dari balik pintu, dan raut wajah Tissa pun nongol dengan sebentuk cengiran lebar, "BB gue, Mel, tolong dong..  Hehehe..."


=oOo=

28.5.13

Salah Jurusan



Barusan, saya menonton acara TV "How Do They Do It" di Discovery.  Kali ini mereka membahas bagaimana wasabi dibuat.


 Disitulah saya tahu bahwa wasabi buat dibuat dari sejenis cabai, melainkan dari sejenis tanaman rambat.  Bentuk tanamannya seperti ubi rambat.  Saya juga baru tahu bahwa yang diambil untuk dibuat wasabi yang kita makan di restoran sushi adalah bagian pangkal batangnya.  Cara membuatnya pun sederhana sekali, cuma digosok-gosokkan secara melingkar di sejenis talenan bepermukaan kasar (yang terbaik katanya terbuat dari kulit hiu).

Respon saya pada suami yang juga ikut menonton, "Ih, mau deh aku punya lahan trus memproduksi kayak gitu!".  Respon yang sama begitu saya menonton bagaimana membuat keju Swiss dan wine.



Intinya, saya tertarik untuk mengelola agrobisnis.

Well...  Sepertinya, dari dulu saya sebenarnya sudah "diletakkan" Tuhan pada tempatnya.  Actually, I took Agronomy major in college.  Keinginan saya tadi sebenarnya bisa diwujudkan kalau saja saya menyadarinya like 8 tahun lalu, misalnya.

Tanpa menyesali dimana saya berada sekarang, saya cuma menyayangkan betapa sia-sia bidang ilmu yang saya timba (walaupun memang nggak ada kata terlambat untuk memulai dan belajar kembali sih...).  Kalaaaau saja saya kuliah dengan motivasi yang tepat...

Dulu, motivasi saya kuliah?  Supaya sukses dan "jadi orang".  Supaya bisa kerja dan bisa cari uang.  Papa menambahkan, "Pilih jurusan yang bisa wirausaha, supaya kamu nggak tergantung kerja sama orang lain!"

Hmmm, nggak ada bayangan buat wirausaha!  Apa sih maksudnya wirausaha?  Waktu itu, nggak pernah ada di benak saya pilihan untuk berbisnis setelah besar nanti!  Yang ada (dan yang normal), kalo udah lulus yaa kerja.  Ngantor!



 
Jadi... pilih jurusan apa yaaa?  Saya mau jadi apa sih?
Maunya sih, saya jadi desainer.  Ketertarikan utama saya sih bidang fashion.  Tapi interior dan arsitek pun sepertinya menarik.  Saya pun mulai mencari dan memilih-milih universitas.  Saya ajukan ke papa.




 
Well, ternyata papa sudah mempersiapkan pilihannya: kedokteran dan pertanian, lengkap dengan pilihan universitasnya! 
HAHHH?!?!?!  Dua-duanya terlintas pun nggak di pikiranku.  Jadi dokter?  Membayangkan sekolahnya lama aja saya udah pengen muntah.  Apalagi jadi petani.  Saya memandang masa depan saya mulai buram.  Literally, blur!  Alias nggak ada gambaran!
  
But Dad ruled!  Pertimbangannya adalah keputusan final.  Mengingat nilai pelajaran biologi saya termasuk yang paling bagus, kedua major tadi dianggapnya memungkinkan untuk wirausaha, universitas pilihannya relatif berbiaya murah; then.. saya pun menghabiskan nyaris 9 tahun mengejar gelar S1 doang!




Papa saya sebenarnya sudah mengarahkan dengan benar.  Hanya saja kurang sedikit memberikan gambaran, mengajarkan soal visi, dan motivasi.  Sayangnya, begitu nyampe di kampus juga, saya nggak pernah diajari tentang visi, tentang aplikasi ilmu bagi kehidupan sehari-hari, tentang manfaat ilmu itu untuk cari nafkah, tentang pengembangan prospek ke depan...


 Semoga pendidikan kita sekarang sudah mengarah ke sana ya, supaya nggak ada lulusan hukum buka toko kue, lulusan kelautan jadi menejer restoran, lulusan peternakan kerja di media, lulusan ekonomi jadi customer service, atau sarjana seni jadi account executive...  
 

2.4.13

Skills of Survival From Home

Living in the first year of marriage (yang kata orang masa paling berat nomer satu dalam pernikahan), I realize more and more, how mom & dad taught me so many things well back then, baik yang mereka sengaja ajarkan maupun yang, mungkin, tanpa sadar mereka contohkan.

Papa sudah tentu mengajariku untuk mandiri, nggak cengeng, berjuang, bersikap decent, hemat, disiplin, low profile dan banyak lagi.


Mama lebih ke hal-hal yang relijius dan banyak mencontohkan skills of survival, seperti bagaimana menjadi perempuan yang kuat, SABAR (bold and underlined, hehehe..), berbakti pada suami (no matter what, yang dulu aku melihatnya sebagai naive), setia, pinter ngatur uang rumah tangga (dengan "setoran" uang belanja pas-pasan, mama masih bisa menyisihkan sedikit demi sedikit uang dan menjadikannya safety net keluarga dan kami sering sekali tertolong dengan safety net ini!), masak sendiri buat keluarganya dengan bahan seadanya (setelah dipikir-pikir, she's soo creative with ingredients!), and being such a wonder woman!  


She is indeed!  She's not college graduated but I think she's capable to do everything, like, E-VERY-THING!

Dan nggak seperti papa, seperti saya singgung tadi, mama lebih mencontohkan.  Saya rasa dia nggak sengaja juga menjadikan dirinya role model.  Mama itu pikirannya sangat simple.  Prinsip hidupnya sangat vertikal: lillahi taala.  No wonder she always survives.  

Contohnya saja, dia nggak pernah mengajari saya memasak.  Dalam arti, dia nggak pernah memberi resep-resep lalu menyuruh saya berlatih memasak.  Banyak kan, ibu-ibu yang memang mengharuskan anak perempuannya bisa masak dalam rangka mempersiapkannya menjadi seorang istri teladan di masa depan?  


Tapi yang mama lakukan adalah hanya dengan melibatkan saya di dapur, entah memotong wortel, mengupas bawang, mengelap piring, mengulek bumbu, mengaduk sayur atau sesederhana menjaga gorengan supaya nggak gosong meanwhile dia juggling dengan pekerjaan lainnya.

Mungkin karena hal itu dilakukan setiap hari sampai saya keluar dari rumah di umur 18, jadilah rutinitas itu masuk ke dalam memori saya, nggak cuma pekerjaan mengupas bawang tadi, tapi the whole proses memasak setiap menu!  Lebih tepatnya, memori otot saya sih...   (saya pernah menonton Nat Geo, memori ototlah yang membuat kita "bisa karena biasa").


Sesuatu yang lucu adalah waktu suami saya bilang, "Liat perutku nih, mulai buncit.  Gimana nggak, pagi sarapan trus brunch, sore dikasih cemilan, trus makan malem.  Kadang malem di-"pakani" cemilan lagi!", katanya sambil mengelus-elus perut dengan senang.  Dan aku baru sadar, pola makan itulah yang mama terapkan di rumah.  Pagi ngopi/ ngeteh, jam 11 brunch, jam 3 atau 4 ngopi/ ngeteh lagi, jam 7 makan, jam 8 cemilan ringan atau buah!

Dan saya menjalankan itu sekarang di rumah saya!

Kebayang nggak sih, apa yang melekat di memori otot anak-anak yang di rumahnya biasa dengan kekerasan atau justru keacuhan, orang tua sibuk masing-masing...  Oh my... dengan segala keterbatasan kami dulu, saya sangat  bersyukur punya papa mama yang nggak hanya mengajarkan yang baik, tapi juga menjadi contoh.

Love you, Mom..  Love you, Dad...
I hope I can be a good parent as well as you!
 

9.3.13

Life Is Good


Bulan Maret seharusnya menjadi bulan yang sangat membahagiakan buat saya.
Di bulan ini saya berulang tahun, juga adik saya dan beberapa sahabat dekat.
Tapi bulan favorit saya ini dibuka dengan dua berita duka.
Dua orang teman saya berpulang di usia yang sangat muda.
Dua-duanya "cuma" dapet jatah 39 episode saja menjalani perannya di season 1 hidupnya.
Sekarang mungkin sedang mulai syuting season 2.
Pasti ceritanya lebih indah dari season 1 :)

Mas Bipi Nastoto dan Irwin Novianto adalah dua orang rekan kerja saya di kantor lama.
Saya nggak pernah bekerja langsung dengan mereka dan personally juga tidak mengenalnya terlalu dekat.
Tapi memori yang tersisa di kepala (baca: hati) saya adalah bahwa keduanya orang yang ramah, family man, dan radio person yang mencintai pekerjaannya.


Kenangan terkuat dari Mas Bipi adalah suaranya yang sangat 'laki'.  Nggak heran kalo fans penyiar yang satu ini nggak bisa kehitung.  Dengan suara 'laki'-nya itu, pendengar laki ngerasa 'bro' banget sama dia, sementara pendengar perempuan, kalo nggak 'nyender di dada abang' yaa 'klepek-klepek' lah! ;)
 
Semangatnya melawan cancer yang pernah dideritanya menjadi inspirasi buat saya bahwa apa pun yang saya anggap buruk yang pernah saya alami nggak ada apa-apanya dibanding perjuangannya untuk kembali sehat.  Pelajarannya: nggak usah kebanyakan ngeluh deh!  Ujian orang lain lebih berat dari lo!


Sedangkan Irwin, saya masih ingat banget waktu saya 'dikaruniai' double job sebagai music director, selain program director yang sudah saya jabat.  Bolak balik saya menggali pengalaman dan pelajaran dari dia mengenai seleksi lagu, rotasi, sampe ngulik software yang super-moody dan nggak tau maunya apa itu :p
Nggak jarang kami curhatan juga mengenai selera pasar yang semakin bikin kita repot melawan habis-habisan idealisme diri sendiri.


Irwin juga membuat saya berasa dekat dengan rumah karena dengan dia, saya sering menggunakan bahasa 'rumah' Cerbonan.  Ya, kami memang satu kampung di Cirebon, bahkan dulu satu almamater di SMA.  Padahal, saya termasuk jarang mau berbahasa Cerbonan, karena saya tahu, bahasa Cirebon saya jelek banget.  Yang ada, saya malah kedengeran 'wagu' tiap berbahasa Cirebon.  Tapi sama Irwin, semuanya seperti lancar saja karena saya nggak takut salah dan nggak takut kedengeran 'wagu' :D


Kedua teman saya ini dipanggil dengan serangan jantung.
Sepertinya penyakit degeneratif kayak gini udah nggak kenal umur.  Penderitanya semakin muda saja usianya.
 
Pelajaran buat saya:

1.  Hiduplah lebih sehat
2. Jangan terlalu serius (baca: stress)
3. Less worry karena semua sudah diatur sama Yang Di Atas, dan Yang Di Atas nggak pernah salah ngatur 
4. Selama masih hidup selalu ada harapan
5. Jangan terlalu bersusah hati karena apa yang kita alami nggak seberapa dari yang orang lain alami
6. Nikmati hidup to the fullest.  Nikmati hal kecil, like matahari pagi, hujan, kicau burung, atau aroma kopi; selagi masih bisa menikmati
7. Sayangi keluarga dan sahabat-sahabat
8. Nggak usah buang waktu untuk membenci 
9. Cherish every moment
10. Letting go dan tentunya... 
11. Selalu 'siapkan diri' untuk menghadap Sang Big Boss, cos we'll never know.. :D
12.  .................................. (ada yang mau nambahin? ;p)


Nice to know you, Guys...  And FYI, you're so loved.
Rest in peace... 
             

6.1.13

This Whole New Experience

 
Belum 2 bulan aku jadi "istri orang" tapi aku merasakan sudah banyak sekali mendapatkan pengalaman baru.  Tapi itu memang salah satu tujuanku sih, pilihan untuk menikah kuambil karena salah satunya adalah ingin 'experiencing' menjadi istri orang dan membangun keluargaku sendiri.

Balik soal pengalaman tadi... nggak kebayang jadinya, gimana perempuan-perempuan yang sudah puluhan tahun mendampingi suaminya ya?  Hats off!


Dari caraku menulis, mungkin kesannya aku menderita menjalani pilihan ini.  Tapi, nggak kok!  I'll try to keep my consciousness that this is the process.  And marriage, in my opinion,  is about the whole long process.  The goal is how happy I am in living the process itself.

Yang pingin aku ceritakan disini sebenarnya tentang penyesuaian.
Aku sudah mengenal suamiku sekitar 12 tahun dengan kualitas kenal luar biasa, paling tidak itulah yang kami, anak-anak sok tahu ini, akui.  Kami bahkan menyebut level kedekatan kami dengan "level 42", saking luar biasa dekatnya :D

Tapi, ternyata-eh-ternyata, setelah menikah dan tinggal serumah, O-MY-GOD!
Aku tetap punya masalah untuk menerimanya apa adanya!  Leganya, bukan cuma aku, ternyata dia pun mengaku begitu! :)


Untungnya, aku tetap menjaga kesadaranku tadi, sehingga dengan sedikit tarik nafas dalam-dalam sambil menikmati black coffee yang semakin kental atau ngomel-ngomel sendiri di kamar mandi atau curhat ke sahabat dekat; aku pun bisa melihat dari sudut positifnya: it's normal thing!  Every married-couple experience that!  

Tentang handuk basah di kasur memang aku nggak mengalaminya, tapi bagaimana dengan barang-barang dia yang bisa terus-terusan tersebar dimana-mana walaupun aku selalu  menempatkannya kembali dan menunjukkan ke dia bahwa ada spot-spot khusus untuk barang-barang dia?  Bagaimana dengan kaus pergi yang masuk ke dalam selimut?  Bagaimana dengan TV yang mulai dikuasai?  Bagaimana dengan...

Lalu kusadari, ng... cuma itu sih... nggak ada lagi...
Dan ternyata, nggak berat-berat amat masalahnya...

Terus, kenapa aku ribut banget ya?
Bukannya aku juga jauh dari sempurna?

Aku bukannya Miranda Kerr, salah satu Victoria's Secret angel favoritnya itu, yang angelicly cantik dan hot-nya sampai rasanya memang boleh complaining about everything, aku nggak jago masak, moody like no other guy could handle, stubborn, bawel, dan... banyak lagi!

Jadilah kemudian aku mengakui, memang nggak perlu over dramatic menghadapi ini.  Faktanya, kalau mengutip kata-kata sahabatku, "He and you'll never change.  What will happen is compromising".

Compromise!  How could I forget that word!



Lalu, pada sebuah kesempatan meneruskan "Persepolis", Marjane Satrapi menyebut, "Marriage requires too many compromises.  And I can't do that".

It's again about choices.  Bukannya hidup single lebih mudah juga sih, tanya aja sama temen-temen yang di usiaku masih melajang.  Indeed, they're not surviving so many compromising but how about some lonely nights, or having no particular person to complain about everything? Been there done that! :p



Yes, I chose this.  I should be responsible to it, and I will.

Temenku bilang, "Santai aja.  Nanti akan sampai di satu titik dimana kamu nyerah sama egomu dan nggak akan mempermasalahkan hal-hal kecil lagi.  Kamu akan nyampe ke situ, but take your time, nggak usah buru-buru.  Dinikmati aja", katanya sambil senyum-senyum kurang ajar :D



Yup.  He's my choice.  Despite of he's just a regular guy that "jorok", clueless about woman and think simple, if I had a chance to make up my mind, I'd still marry him, simply for his sincere love, caring, letting-me-tobe-myself and limitless understanding.

Besides, of course, I realize that I am also just a regular woman who loves to take care my family.
And he's my family now :)


*jangan sampe dia baca ini, bisa ge-er dia!

2.12.12

The End of The Messy-Yet-Beautiful Journey Chapter One

It's been two weeks I'm living my new life as a wife and still I can't stop smiling seeing pictures from that day, remembering the hard times behind and can't be more thankful for the lessons I experienced through.




 It's a happy ending for the messy-yet-beautiful journey of me & Edo.  At the end, after all the struggles, tears and heartaches; fighting for our love and our future, we committed to put all the dramas behind.




 I'm so sorry that some people couldn't believe in what we do.  We fully understand and really appreciated their concern.
We hope they wish us a happy marriage still. 


 
People said wedding is just a new beginning, I think it's quite true. 
It's a new beginning for knowing who stays and who leaves when we disagree each other. 
Who really loves and supports and understands and accepts us as we are.
To realize what the family means.  To learn more about respect, about integrity, honesty. 
To re-remember that happiness is the one and only goal we aim.
To re-feel the true happiness, being around the people we love and love us.

All the pain and the wait's just worth it.


It's a very beautiful day, surrounded by very caring and loving yet beautiful people, the people we love; shared lots of happiness, joys, togetherness, and of course, love.
The day that I would never forget.


In the name of God, The Most Kind, The Most Merciful, may it be the new start of our journey.  Amen.